Selasa, 14 Oktober 2008

Memori di Rumah Mungil

Perpisahan merupakan bagian dari sebuah perubahan. Suka atau tidak suka perubahan itu pasti terjadi, yang tetap adalah bahwa kehidupan ini akan terus mengalami perubahan. Inilah yang terus menggelayuti pikiran saya ketika harus meninggalkan rumah kontrakan itu. Saya harus ikhlas bahwa hidup harus berubah, dan tak mungkin tidak berubah.

Sejak awal pernikahan, saya dan istri lebih memilih tinggal di rumah kontrakan. Terpilihlah sebuah rumah petak nan mungil di daerah Kalimalang. Rumah bernuansa hijau itu terasa asri sekali. Selain masih dikelilingi kebun beberapa pohon besar pun ikutan menghuni perkarangan rumah, sebutlah sebatang pohon Sukun besar di sebelah kanan depan rumah, atau sebatang pohon pete yang selama kami di sana telah berbuah sebanyak tiga kali, atau sebatang pohon pisang dan kelapa di belakang rumah. Hem…. Nikmat sekali menempati rumah itu.

Selain itu kami pun memiliki tetangga yang ramah dan hangat terhadap saya, istri, dan si kecil Aisyah. Mereka adalah keluarga Rustam yang memiliki tiga putri yang telah dewasa. Lia, Vika, dan Mala. selain itu di sebelah rumah kami ada Pak Jaya dan keluarga. Istri pak Jaya adalah adik dari istri Pak Rustam. Mereka memilki dua orang Putra, kami memanggilnya A’a Agig, dan Abang Farid. Si kecil Farid sangat dekat sekali dengan Putri kami Aisyah. Meski kadang Aisyah jengkel dengan kelakuannya si Farid yang sering teriak-teriak kalau bernyanyi, terutama kala mandi pagi. Lagu yang sering dinyanyikannya adalah lagu si Changcuters RACUN………..! Tapi tingkah-pola kelucuan dan kepolosan si Farid sering membuat kami tersenyum sendiri, seorang anak yang telah terbiasa mandiri karena sering ditinggal kedua orang tuanya yang memang sibuk sekali. Farid adalah seorang bocah yang ingin banyak tahu, meski baru duduk di bangku sekolah dasar. Cita-citanya pun nggak main-main menjadi Ahli Fisika. Hal yang berkesan dari seorang Farid adalah perangainya kalau sedang membujuk sesuatu pada orang tuanya, dia selalu ingin mendapatkan kepastian jawaban agar permintaannya dikabuli, kata-kata yang sering terlontar kala merengek adalah “Pa, boleh yak…….? Boleh yak……..!” Saya dan istri juga Aisyah sangat dekat sekali dengan Farid, karena kesibukan kedua orang tuanya yang pergi pagi dan pulang kadang hingga tengah malam, si Farid jadi lebih sering menghabiskan waktunya di rumah kami. Papanya adalah seorang Jurnalis di daerah Banten, sedangkan Mamanya adalah seorang wanita yang sukses berkarir di sebuah perusahaan Jepang.

Ketika kami mulai mengutarakan niat untuk mengakhiri kontrakan rumah, mereka semua kecewa. Mereka sangat sayang sekali dengan Aisyah. Mereka sudah terlanjur dekat dengan Aisyah. Pak Rustam kami panggil dengan sebutan Kakek, sedangkan Istrinya kami panggil dengan sebutan Nenek. Anak-anak gadis mereka kami ajarkan Aisyah untuk memanggil dengan sebutan tante. Sedangkan Pak Jaya dan Istrinya kami ajarkan dengan sebutan Bapak dan Ibu. Bahkan mereka sering mencandai kami agar Aisyah nggak usah diajak, saya dan istri disuruh bikin adik baru aja, he….he…..! Bahkan si Farid sudah mewanti-wanti kami agar rumah sakit Aisyah nggak usah diganti, biar tetap bisa main ke sini. Ya Aisyah memang diImunisasi di sebuah Rumah Sakit yang tidak jauh dari daerah tempat tinggal.

Kami kadang merasa mendapat keluarga baru di sana, Kami seolah telah kenal lama saja dengan mereka. Kami seolah mendapat orang tua baru, adik-adik baru, dan keponakan baru. Semoga silahturahmi ini terus terjaga.

Hal yang menarik dari pengalaman kami mengontrak rumah adalah, kami benar-benar merasakan perjuangan hidup. Hal mengharukan sekaligus membanggakan adalah kala kami sedang menghadapi kesulitan. Tak ada yang mendengar jeritan kami dan tak ada yang melihat kala kami tertatih. Semua itu kami hadapi sendiri. Berbeda bila anda hidup menumpang dengan orang tua atau kerabat. Kala anda susah semua orang akan tahu kesusahan anda, kala anda sedang terpuruk maka semua orang akan memandangnya.

Sebuah pengalaman indah yang kami dapati di sebuah rumah kontrakan mungil. Sebuah babak yang baru saja berakhir dari kehidupan kami. Kala langkah ini meninggalkan rumah itu, air mata seolah tak kuasa untuk dibendung. Tangis kami menghantar kepergian saya dan istri juga Aisyah menghadapi kehidupan baru. Terima Kasih atas kehangatan dalam persaudaraan ini, mohon maaf bila ada kekurangan. Kami datang dengan membawa cinta, dan kepergian kami di antar oleh cinta.

Catatan : Kami meninggalkan rumah itu tepat di Hari Minggu 12 Oktober 2008, dengan di antar oleh Ibu, Farid, Lia, dan Anton (Tunangan Lia).

Jumat, 03 Oktober 2008

Kang Mamat dan Dukun Kampung



Pernahkan melihat iklan paranormal yang menawarkan jasanya di televisi ? Pastinya ! ada yang nyuruh ketik reg_(spasi)manjur, ada yang nyuruh ketik reg_(spasi)primbon,dan kirim ke sekian-sekian……….

Kalau ngelihat iklan model gini saya jadi teringat sama cerita teman saya kang Mamat yang asli Subang sono…….., ceritanya begini :

Kang Mamat ini waktu kecilnya memang bandel banget, salah satunya suka nyolongin ayam peliharaan Mbah-nya. Nggak Cuma ayam yang udah gede aja ….., telornya pun juga diembat.

Kelakuan Kang-Mamat ini ternyata tidak diketahui oleh si-Embah, beliau mengira ayam-ayam itu hilang dicuri orang atau dimakan musang. Hingga sampai suatu hari si-Embah udah nggak bisa mentolerir lagi kerugian atas hilangnya ayam-ayam itu.

Akhirnya si-Embah berniat mencari tahu siapa pelaku pencuri ayam dan telor miliknya kepada Ki Dukun tersohor di kampung itu. Niat ini pun ia sampaikan kepada Kang -Mamat, bahkan beliau meminta bantuan si-Mamat mengantarkannya ke rumah Ki Dukun.

Dag….dig……dug………., jantung Kang - Mamat berdetak dengan irama cepat tanpa ketukan yang beraturan. Keringat dinginnya pun mengucur deras takut ketahuan, maklum saja Ki Dukun adalah “orang pintar” tersohor yang sangat disegani dikampungnya. Bagaimana kalau perbuatannya selama ini diketahui oleh si-Embah, bisa dipasung seumur hidup nanti.

Dengan menaiki sepeda kumbang berangkatlah kedua anak-beranak ini ke rumah Ki Dukun. Selama perjalanan tak henti-hentinya Kang - Mamat berkomat-kamit memohon keajaiban kepada Tuhan supaya pertemuan antara pasien dan dukun ini terhalangi.

Sayang Tuhan berkehendak lain, kedua manusia yang saling membutuhkan ini pun bertemu juga, Ki-Dukun langsung yang membuka pintu yang diketuk oleh si-Embah. Setelah menyampaikan maksud yang dituju, KI-Dukun langsung berkomat-kamit diatas sebuah gelas yang diisi air dari kendi. Was…. Wes……….wos, tiba-tiba mata Ki-Dukun belalak tegang seolah melihat hantu jeruk perut di dalam gelas itu.

“Begini ya cu……….., sebenarnya pencuri ayam kamu itu bukan orang jauh….”, kata Ki-Dukun memecah keheningan……, Glek….glek…….. si-Mamat menelan ludahnya, jantungnya makin cepat berdegup….., ingin rasanya ia mengaku saja……………

“Orang itu tinggal sekitar seratus…… atau dua ratus meter dari rumahmu”

“DuAAArrRR” …………..,

Kang - Mamat hampir saja jatuh pingsan, tebakan si dukun SALAH BESAR !
Dan sejak saat itu dia nggak percaya lagi yang namanya Dukun, Paranormal, atau orang pintar……, “semua itu Pembohong !!!” katanya.

Kang Mamat sekarang benci banget sama yang namanya perdukunan, udah musyrik, memfitnah orang pula lagi. Dunia akhirat merugi ……..

Selasa, 02 September 2008

Empati itu Indah



Adakalanya manusia itu baru bisa berempati atas kesulitan yang dialami oleh saudaranya setelah mengalami hal yang sama. Manusiawi bila hal itu terjadi karena kadang akal sehat belum tentu bisa menerima begitu saja atas penjelasan yang ada.

Suatu hari saya didatangi oleh seorang teman yang hendak ingin meminjam sejumlah uang untuk kepentingan sekolah si Adik. Sebenarnya saya sendiri saat itu tidak begitu memiliki simpanan yang bisa masuk dalam kategori “aman”. Maklum saja dalam berumah tangga kadang ada saja pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga yang sebelumnya tidak masuk dalam anggaran rutin. Namun karena alasan sekolah hati saya menjadi “berat” untuk tidak menolongnya, maka dengan segala upaya saya usahakan untuk menolongnya.

Selang beberapa hari setelah meminjamkan uang itu, beberapa teman mendatangi saya dan mempertanyakan tentang masalah hutang piutang tersebut. Intinya mereka mempersalahkan mengapa saya meminjamkan uang dengan nominal yang tidak kecil ke orang tersebut. Mereka memberikan informasi kepada saya kalau si peminjam tersebut saat ini sedang kesulitan uang akibat banyak pinjaman dimana-mana.

Saya hanya menjelaskan kepada mereka, bahwa niat saya untuk meminjamkan uang adalah murni untuk MENOLONG. Maka saya tidak pernah mementingkan akan digunakan untuk apa uang tersebut, apakah akan digunakan dengan tujuan semestinya atau tidak. Terpenting buat saya adalah orang tersebut bisa amanah dengan uang serta janjinya kepada saya.

Saya pernah merasakan kesulitan sepertinya, dan saya sering mendapatkan pertolongan. Bagaimana bisa saya melupakan sebuah kebahagiaan kala bantuan datang saat-saat kondisi kritis hampir saja membuat kehidupan saya terjungkal.Manusia pasti ada masanya, ada kalanya kita menerima namun ada kalanya kita memberi. Pada akhirnya toh kita sendiri yang akan mempertanggung jawabkan perbuatan kita bukan ?

Sabtu, 23 Agustus 2008

Buku, Buku, dan Buku



Mata ini terasa masih mengantuk sekali, kemarin sepulang kerja saya menghabiskan seluruh isi buku dari hasil pinjaman teman di kantor. Padahal hari sudah menunjukkan pukul 24.00 wib tapi karena penasaran dengan isi buku Andys Corner saya terus membalik halaman per halaman hingga selesai seluruhnya. Baru pada pukul 02.00 wib saya merebahkan badan ini ke peraduan untuk menuai mimpi di malam yang sudah terlalu larut.

Paginya saya bercengkrama dengan istri mengenai sebagian dari isi buku yang saya baca, sambil menikmati sarapan yang telah ia suguhi. Saya menceritakan peristiwa-peristiwa yang mencengangkan sekaligus mengharukan dari perjalanan seorang Andy F Noya. Istri pun tercengang mendengar kisah-kisah tersebut, namun ada satu topik yang menjadi pembahasan panjang kami berdua. Yaitu ketika Andy menceritakan tentang “Buku”, bagaimana seorang Andy sebernanya memiliki “dendam” terhadap benda ini (buku). Buku pernah menjadi barang mewah baginya meskipun buku ada disekelilingnya, namun tidak semua dapat ia baca dan miliki.

Saya jadi teringat kisah sekitar 5 tahun yang lalu, dimana saya pun pernah merasakan hal yang serupa. Saat itu saya sangat tergila-gila dengan yang namanya buku, hingga sekarang. Padahal saat itu saya belum meiliki penghasilan untuk membeli buku. Saya memanfaatkan uang saku yang diberikan oleh orang tua saya untuk membeli buku dan uang jajan tambahan yang diberikan abang saya yang sudah bekerja saat itu. Al hasil saya memiliki 2 kesempatan untuk membeli buku, yaitu pada saat orang tua saya memberi uang saku sekitar tanggal 5 setiap bulannya dan tanggal 25 ketika abang saya gajian.

Saat itu saya tidak bisa membeli buku dalam jumlah yang banyak, kalau dibulan itu penerbit dan pengarang buku favorit saya menerbitkan buku lebih banyak dibandingkan bulan-bulan lainnya, maka saya hanya bisa memilih buku yang harganya masih bisa terjangkau dan menyimpan hasrat kepada buku lainnya untuk bulan selanjutnya. Kondisi saya saat itu memang tidak memungkinkan untuk memilikinya sekaligus. Orang tua saya bukanlah tipe orang tua yang memanjakan anaknya dengan uang saku yang besar. Namun seluruh kebutuhan pangan dan pendidikan bagi kami anak-anaknya selalu menjadi perioritas utama. Setiap bulannya saya hanya mendapatkan uang saku sebesar Rp. 100.000,- dan di setiap tanggal 25 abang saya memberikan sebagian gajinya kepada adik-adik yang belum bekerja semua saat itu. Saya mendapatkan porsi lebih besar dibandingkan adik saya yang lain sebesar Rp. 30.00,-, Alhamdulillah.

Pada saat memperoleh uang saku dari orang tua saya langsung melancong ke “kedai” buku Buyung di daerah kwitang, sebagai tempat belanja buku favorit. Maklumlah dengan uang segitu, tentu saja saya harus memendam keinginan untuk bisa belanja di tempat yang nyaman seperti Toko Buku Gramedia atau Gunung Agung. Di sana setiap buku bisa didiskon sampai 40 % dibandingkan harga resminya. Saya bisa langsung membelanjakan seluruh uang saku saya dengan menyadari bahwa saya tidak bisa jajan lagi selama satu bulan. Kemudian ketika tanggalan sudah menyentuh angka 25 saya pun bersiap-siap lagi untuk mendatangi kedai buku favorit itu kembali, kali ini karena uang yang dipegang nilainya sangat kecil tentu saja hanya buku-buku saku saja yang bisa saya beli. Ini sudah menjadi rutinitas saya tiap bulannya hingga tahun 2005.

Ada hal yang menarik ketika memburu buku di kwitang, saya dan mantan kekasih (Istri saya sekarang) harus memutar otak untuk menekan cost. Biasanya kami pergi mencari buku di sore hari sekitar jam 4, dengan menaiki Bis Metromini P17 jurusan Manggarai - Senen. Setelah sampai di sana kami sibuk memilih dan membeli buku yang akan dimiliki samapai Maghrib. Kami pun shalat maghrib biasanya di mesjid toko buku Walisongo yang letaknya persis di bawah tokonya. Setelah itu kami pun pulang, dan untuk urusan pulang kami memilih cara lain yaitu JALAN KAKI. Rute yang kami lalui adalah tugu tani – Cikini – Jl. Surabaya – Pasar Rumput. Nah biasanya ketika kami melintas di Taman Ismail Marzuki (TIM) tepat adzan Isya berkumandang, kami pun mampir di sebuah Mesjid kecil di samping Hotel Grand Allia yang bersebrangan dengan TIM untuk menunaikan shalat Isya sekaligus beristirahat sejenak. Banyak orang yang tidak percaya akan hal itu dan menganggap saya sadis sama pacar (sekarang udah jadi istri saya). Padahal ya inilah kehidupan kami yang harus sedikit memutar otak guna menekan pengeluaran, sampai akhirnya saya mencoba menutupinya dengan joke kecil “Orang kalau pacaran gimana cari jalan yang jauh supaya bisa berlama-lama, tapi ntar kalau udah kawin sebaliknya cari jalan sesingkat-singkatnya biar cepet sampai rumah”.

Kembali ke diskusi saya sama istri pagi ini, saya mengatakan bahwa setelah Andy menjadi orang sukses dia dendam kesumat terhadap buku, tiap minggunya ia selalu belanja buku dalam jumlah yang sangat banyak. Sampai-sampai istrinya keheranan dan mempertanyakan apakah buku-buku itu bisa diselesaikan dan dibaca dalam satu minggu ? Setelah mendengar cerita masa lalu Andy tentang buku akhirnya sang istri dapat memakluminya. Mungkin para pembaca blog ini yang belum sempat membaca bukunya langsung penasaran memang ada pa dengan Andy dan buku ? Seperti yang sudah saya katakan di atas bahwa buku sempat menjadi barang mewah bagi seorang Andy F noya, ketika masih sebagai Mahasiswa ia harus menabung hingga 3 bulan untuk membeli sebuah buku. Ia harus harus ke perpustakaan Soemantri Brojonegoro di Kawasan Kuningan, Jakarta untuk menyalin buku hingga tangannya pegal, bahkan hingga kuliahnya selesai ia hanya memiliki koleksi buku hanya sekitar 20 buah saja. Sejak itu, di bawah alam sadar Andy, ada “dendam” yang terus mengikuti langkahnya. “Suatu ketika nanti, jika mampu, saya akan membeli buku sebanyak-banyaknya.” Begitu suara hatinya berkata saat itu.

Ah saya pun kembali teringat dengan masa lalu saya, saat itu kami sedang berada di Toko Buku yang berada di Pasaraya Grande Blok M. Saat itu saya hanya bisa memandang buku-buku bagus yang terpampang rapi di toko itu. Saya masih ingat judul buku itu Tafsir Ibnu Katsir terbitan Pustaka Imam As Syafi’I, harganya cukup mahal sekitar Rp. 110.000,- per jilidnya. Saya mengatakan begini sama mantan kekasih “kalau saya sudah bekerja nanti saya akan membelinya dan mengoleksi lengkap buku itu!” bahkan saya pun sempat bertanya padanya “Bagaimana jika nanti kita sudah menikah tapi saya masih sering membeli buku seperti ini bahkan bisa lebih dan lebih dibandingkan sekarang?” Mantan kekasih yang menjadi istri saya saat ini menjawab “Tidak mengapa, kamu kan suka baca sedang saya tidak terlalu, mungkin kalau kita punya anak dan melihat bapaknya suka membaca anaknya akan ketularan angan seperti ibunya.”

Ketika saya sudah bekerja saya pun melampiaskan dendam saya itu, saya membelanjakan sebagian penghasilan saya tiap bulannya ke buku. Namun ketika saya sudah menikah ternyata kebiasaan itu mulai menghilang, saya tetap suka membaca buku tapi lebih banyak meminjamnya dari orang lain dibanding membelinya. Ternyata penghasilan saya belum bisa memenuhi hasrat membeli buku, banyak kebutuhan-kebutuhan rumah tangga yang tak terduga membuat saya harus mengubur keinginan itu. Dendam itu pun lahir kembali ! Selama saya berumah tangga (tahun 2007) saya hanya memiliki beberapa buku saja diantaranya Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Kick Andy Menonton dengan Hati, The Secret (Hadiah dari mengikuti undian buku gratis di website kick andy) dan tiga buku lainnya yang saya lupa secara tepat judulnya tapi nggak jauh dari dunia Sales & Marketing serta pengembangan diri.

Buku adalah satu dari sekian banyak dendam saya, dan Buku adalah satu dari sekian banyak mimpi saya yang belum terwujud hingga hari ini. Lagi-lagi Kick Andy menginspirasi dan memotivasi saya, seolah buku pinjaman yang saya baca tadi malam telah menyadarkan saya bahwa langkah saya saat ini belum bisa membawa saya ke mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan. Saya harus membangun langkah baru, langkah yang mampu membawa dan membayar semua mimpi saya menjadi kenyataan, dan membalas seluruh dendam itu !

Jumat, 22 Agustus 2008

Jangan Lupakan Langkah yang Telah Terayun



Tidaklah semua masa lalumu adalah aib, dan tidaklah semua masa lalu mu adalah sebuah kehinaan. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah masa lalu, dan banyak orang bisa besar karena belajar dari kesalahan masa lalunya.

Hargailah masa lalu mu dengan kebesaran keadaanmu saat ini, dan janganlah engkau berprilaku kepada masa lalu mu seperti kecilnya engkau dulu. Bila engkau mengecilkan masa lalu mu maka engkau telah melupakan langkah-langkah kecil yang telah membawa mu kepada keadaan besarmu saat ini.

Duhai sahabat,

Berapa banyak orang-orang besar yang selalu memperhatikan hal-hal kecil dari sekelilingnya. Mereka tidak pernah meremehkan sesuatu yang kecil untuk meraih sebuah kebesaran. Masihkah kita menganggap masa lalu sebuah hal kecil yang tak perlu diingat lagi? akankah kita menganggap masa lalu sebagai sebuah masa yang tak memiliki harga?

Engkau telah melakukan kesalahan besar bila itu terjadi padamu,
Masa lalu mu adalah masa di mana langkah-langkah kecil itu mengayun membawamu ke dalam kebesaran mu saat ini. Berdirilah dengan gagah diatas masa lalu sertailah ia sebagai bagian dari kesuksesanmu saat ini. Percayalah engkau akan dihargai oleh masa mu saat ini, dan hormati oleh masa mu yang lalu.

Rabu, 20 Agustus 2008

Inilah Hidup



“ Jangan melihat ke atas lihatlah ke bawah maka kita akan lebih mensyukuri hidup”, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Dan sudah menjadi suratan juga kalau manusia itu memiliki tabiat tidak pernah merasa puas akan apa yang telah diperolehnya kecuali tanah telah menutupi tenggorokan ini.

Namun tidaklah berarti bahwa kita mesti diam di tempat, langkah tetap harus maju dan mengarah ke depan. Halangan tentu saja ada, rintangan pun demikian. Bila ada hambatan yang menghalangi jangan lantas mudah bersedih, tataplah tempatmu berdiri dan tengoklah dibelakang sana dan kau akan mensyukuri keberadaanmu sekarang.

Duhai alangkah nikmatnya di atas sana, demikian engkau beripikir tentang kehidupan saudara kita yang telah ada di atas !
Hei…….akankah kau habiskan waktu dan usia mu untuk memikirkan kehidupan orang, sedang masa hidupmu semakin pendek……!

Hai….teman, tidakkah kau berpikir akan saudara-saudaramu di bawah sana yang sedang berpikir sama tentang kehidupanmu ?

Selasa, 19 Agustus 2008

Never Tire !

Selamat Datang di blog ini !

Telah lama saya mendambakan adanya media yang menampung catatan-catatan kecil yang sering saya buat. Tanpa ada maksud apapun, seringkali pena ini tergores di atas lembaran-lembaran yang telah mensudikan dirinya menjadi tumpahan dari isi kepala dan hati saya terhadap suatu keadaan.

Tentu saja di dalam kehidupan ini manusia memiliki beberapa keadaan. Tidak selalu senang dan tidak selalu juga berduka. Namun ada catatan-catatan kecil yang mengiringi disetiap keadaan itu, ada pelajaran mungkin bagi sebagian orang. namun tak sedikit pula yang menganggap catatan-catatan itu sebagai sampah belaka.

Saya tak ingin membuangnya ! karena catatan ini adalah adalah inspirasi sekaligus motivasi buat saya. meski entah buat yang lain, namun catatan-catatan ini tidak akan hilang meski keadaan telah berubah !