Perpisahan merupakan bagian dari sebuah perubahan. Suka atau tidak suka perubahan itu pasti terjadi, yang tetap adalah bahwa kehidupan ini akan terus mengalami perubahan. Inilah yang terus menggelayuti pikiran saya ketika harus meninggalkan rumah kontrakan itu. Saya harus ikhlas bahwa hidup harus berubah, dan tak mungkin tidak berubah.Sejak awal pernikahan, saya dan istri lebih memilih tinggal di rumah kontrakan. Terpilihlah sebuah rumah petak nan mungil di daerah Kalimalang. Rumah bernuansa hijau itu terasa asri sekali. Selain masih dikelilingi kebun beberapa pohon besar pun ikutan menghuni perkarangan rumah, sebutlah sebatang pohon Sukun besar di sebelah kanan depan rumah, atau sebatang pohon pete yang selama kami di sana telah berbuah sebanyak tiga kali, atau sebatang pohon pisang dan kelapa di belakang rumah. Hem…. Nikmat sekali menempati rumah itu.
Selain itu kami pun memiliki tetangga yang ramah dan hangat terhadap saya, istri, dan si kecil Aisyah. Mereka adalah keluarga Rustam yang memiliki tiga putri yang telah dewasa. Lia, Vika, dan Mala. selain itu di sebelah rumah kami ada Pak Jaya dan keluarga. Istri pak Jaya adalah adik dari istri Pak Rustam. Mereka memilki dua orang Putra, kami memanggilnya A’a Agig, dan Abang Farid. Si kecil Farid sangat dekat sekali dengan Putri kami Aisyah. Meski kadang Aisyah jengkel dengan kelakuannya si Farid yang sering teriak-teriak kalau bernyanyi, terutama kala mandi pagi. Lagu yang sering dinyanyikannya adalah lagu si Changcuters RACUN………..! Tapi tingkah-pola kelucuan dan kepolosan si Farid sering membuat kami tersenyum sendiri, seorang anak yang telah terbiasa mandiri karena sering
ditinggal kedua orang tuanya yang memang sibuk sekali. Farid adalah seorang bocah yang ingin banyak tahu, meski baru duduk di bangku sekolah dasar. Cita-citanya pun nggak main-main menjadi Ahli Fisika. Hal yang berkesan dari seorang Farid adalah perangainya kalau sedang membujuk sesuatu pada orang tuanya, dia selalu ingin mendapatkan kepastian jawaban agar permintaannya dikabuli, kata-kata yang sering terlontar kala merengek adalah “Pa, boleh yak…….? Boleh yak……..!” Saya dan istri juga Aisyah sangat dekat sekali dengan Farid, karena kesibukan kedua orang tuanya yang pergi pagi dan pulang kadang hingga tengah malam, si Farid jadi lebih sering menghabiskan waktunya di rumah kami. Papanya adalah seorang Jurnalis di daerah Banten, sedangkan Mamanya adalah seorang wanita yang sukses berkarir di sebuah perusahaan Jepang.
Ketika kami mulai mengutarakan niat untuk mengakhiri kontrakan rumah,
mereka semua kecewa. Mereka sangat sayang sekali dengan Aisyah. Mereka sudah terlanjur dekat dengan Aisyah. Pak Rustam kami panggil dengan sebutan Kakek, sedangkan Istrinya kami panggil dengan sebutan Nenek. Anak-anak gadis mereka kami ajarkan Aisyah untuk memanggil dengan sebutan tante. Sedangkan Pak Jaya dan Istrinya kami ajarkan dengan sebutan Bapak dan Ibu. Bahkan mereka sering mencandai kami agar Aisyah nggak usah diajak, saya dan istri disuruh bikin adik baru aja, he….he…..! Bahkan si Farid sudah mewanti-wanti kami agar rumah sakit Aisyah nggak usah diganti, biar tetap bisa main ke sini. Ya Aisyah memang diImunisasi di sebuah Rumah Sakit yang tidak jauh dari daerah tempat tinggal.
Kami kadang merasa mendapat keluarga baru di sana, Kami seolah telah kenal lama saja dengan mereka. Kami seolah mendapat orang tua baru, adik-adik baru, dan keponakan baru. Semoga silahturahmi ini terus terjaga.
Hal yang menarik dari pengalaman kami mengontrak rumah adalah, kami benar-benar merasakan perjuangan hidup. Hal mengharukan sekaligus membanggakan adalah kala kami sedang menghadapi kesulitan. Tak ada yang mendengar jeritan kami dan tak ada yang melihat kala kami tertatih. Semua itu kami hadapi sendiri. Berbeda bila anda hidup menumpang dengan orang tua atau kerabat. Kala anda susah semua orang akan tahu kesusahan anda, kala anda sedang terpuruk maka semua orang akan memandangnya.
Sebuah pengalaman indah yang kami dapati di sebuah rumah kontrakan mungil. Sebuah babak yang baru saja berakhir dari kehidupan kami. Kala langkah ini meninggalkan rumah itu, air mata seolah tak kuasa untuk dibendung. Tangis kami menghantar kepergian saya dan istri juga Aisyah menghadapi kehidupan baru. Terima Kasih atas kehangatan dalam persaudaraan ini, mohon maaf bila ada kekurangan. Kami datang dengan membawa cinta, dan kepergian kami di antar oleh cinta.
Catatan : Kami meninggalkan rumah itu tepat di Hari Minggu 12 Oktober 2008, dengan di antar oleh Ibu, Farid, Lia, dan Anton (Tunangan Lia).




