Sabtu, 23 Agustus 2008

Buku, Buku, dan Buku



Mata ini terasa masih mengantuk sekali, kemarin sepulang kerja saya menghabiskan seluruh isi buku dari hasil pinjaman teman di kantor. Padahal hari sudah menunjukkan pukul 24.00 wib tapi karena penasaran dengan isi buku Andys Corner saya terus membalik halaman per halaman hingga selesai seluruhnya. Baru pada pukul 02.00 wib saya merebahkan badan ini ke peraduan untuk menuai mimpi di malam yang sudah terlalu larut.

Paginya saya bercengkrama dengan istri mengenai sebagian dari isi buku yang saya baca, sambil menikmati sarapan yang telah ia suguhi. Saya menceritakan peristiwa-peristiwa yang mencengangkan sekaligus mengharukan dari perjalanan seorang Andy F Noya. Istri pun tercengang mendengar kisah-kisah tersebut, namun ada satu topik yang menjadi pembahasan panjang kami berdua. Yaitu ketika Andy menceritakan tentang “Buku”, bagaimana seorang Andy sebernanya memiliki “dendam” terhadap benda ini (buku). Buku pernah menjadi barang mewah baginya meskipun buku ada disekelilingnya, namun tidak semua dapat ia baca dan miliki.

Saya jadi teringat kisah sekitar 5 tahun yang lalu, dimana saya pun pernah merasakan hal yang serupa. Saat itu saya sangat tergila-gila dengan yang namanya buku, hingga sekarang. Padahal saat itu saya belum meiliki penghasilan untuk membeli buku. Saya memanfaatkan uang saku yang diberikan oleh orang tua saya untuk membeli buku dan uang jajan tambahan yang diberikan abang saya yang sudah bekerja saat itu. Al hasil saya memiliki 2 kesempatan untuk membeli buku, yaitu pada saat orang tua saya memberi uang saku sekitar tanggal 5 setiap bulannya dan tanggal 25 ketika abang saya gajian.

Saat itu saya tidak bisa membeli buku dalam jumlah yang banyak, kalau dibulan itu penerbit dan pengarang buku favorit saya menerbitkan buku lebih banyak dibandingkan bulan-bulan lainnya, maka saya hanya bisa memilih buku yang harganya masih bisa terjangkau dan menyimpan hasrat kepada buku lainnya untuk bulan selanjutnya. Kondisi saya saat itu memang tidak memungkinkan untuk memilikinya sekaligus. Orang tua saya bukanlah tipe orang tua yang memanjakan anaknya dengan uang saku yang besar. Namun seluruh kebutuhan pangan dan pendidikan bagi kami anak-anaknya selalu menjadi perioritas utama. Setiap bulannya saya hanya mendapatkan uang saku sebesar Rp. 100.000,- dan di setiap tanggal 25 abang saya memberikan sebagian gajinya kepada adik-adik yang belum bekerja semua saat itu. Saya mendapatkan porsi lebih besar dibandingkan adik saya yang lain sebesar Rp. 30.00,-, Alhamdulillah.

Pada saat memperoleh uang saku dari orang tua saya langsung melancong ke “kedai” buku Buyung di daerah kwitang, sebagai tempat belanja buku favorit. Maklumlah dengan uang segitu, tentu saja saya harus memendam keinginan untuk bisa belanja di tempat yang nyaman seperti Toko Buku Gramedia atau Gunung Agung. Di sana setiap buku bisa didiskon sampai 40 % dibandingkan harga resminya. Saya bisa langsung membelanjakan seluruh uang saku saya dengan menyadari bahwa saya tidak bisa jajan lagi selama satu bulan. Kemudian ketika tanggalan sudah menyentuh angka 25 saya pun bersiap-siap lagi untuk mendatangi kedai buku favorit itu kembali, kali ini karena uang yang dipegang nilainya sangat kecil tentu saja hanya buku-buku saku saja yang bisa saya beli. Ini sudah menjadi rutinitas saya tiap bulannya hingga tahun 2005.

Ada hal yang menarik ketika memburu buku di kwitang, saya dan mantan kekasih (Istri saya sekarang) harus memutar otak untuk menekan cost. Biasanya kami pergi mencari buku di sore hari sekitar jam 4, dengan menaiki Bis Metromini P17 jurusan Manggarai - Senen. Setelah sampai di sana kami sibuk memilih dan membeli buku yang akan dimiliki samapai Maghrib. Kami pun shalat maghrib biasanya di mesjid toko buku Walisongo yang letaknya persis di bawah tokonya. Setelah itu kami pun pulang, dan untuk urusan pulang kami memilih cara lain yaitu JALAN KAKI. Rute yang kami lalui adalah tugu tani – Cikini – Jl. Surabaya – Pasar Rumput. Nah biasanya ketika kami melintas di Taman Ismail Marzuki (TIM) tepat adzan Isya berkumandang, kami pun mampir di sebuah Mesjid kecil di samping Hotel Grand Allia yang bersebrangan dengan TIM untuk menunaikan shalat Isya sekaligus beristirahat sejenak. Banyak orang yang tidak percaya akan hal itu dan menganggap saya sadis sama pacar (sekarang udah jadi istri saya). Padahal ya inilah kehidupan kami yang harus sedikit memutar otak guna menekan pengeluaran, sampai akhirnya saya mencoba menutupinya dengan joke kecil “Orang kalau pacaran gimana cari jalan yang jauh supaya bisa berlama-lama, tapi ntar kalau udah kawin sebaliknya cari jalan sesingkat-singkatnya biar cepet sampai rumah”.

Kembali ke diskusi saya sama istri pagi ini, saya mengatakan bahwa setelah Andy menjadi orang sukses dia dendam kesumat terhadap buku, tiap minggunya ia selalu belanja buku dalam jumlah yang sangat banyak. Sampai-sampai istrinya keheranan dan mempertanyakan apakah buku-buku itu bisa diselesaikan dan dibaca dalam satu minggu ? Setelah mendengar cerita masa lalu Andy tentang buku akhirnya sang istri dapat memakluminya. Mungkin para pembaca blog ini yang belum sempat membaca bukunya langsung penasaran memang ada pa dengan Andy dan buku ? Seperti yang sudah saya katakan di atas bahwa buku sempat menjadi barang mewah bagi seorang Andy F noya, ketika masih sebagai Mahasiswa ia harus menabung hingga 3 bulan untuk membeli sebuah buku. Ia harus harus ke perpustakaan Soemantri Brojonegoro di Kawasan Kuningan, Jakarta untuk menyalin buku hingga tangannya pegal, bahkan hingga kuliahnya selesai ia hanya memiliki koleksi buku hanya sekitar 20 buah saja. Sejak itu, di bawah alam sadar Andy, ada “dendam” yang terus mengikuti langkahnya. “Suatu ketika nanti, jika mampu, saya akan membeli buku sebanyak-banyaknya.” Begitu suara hatinya berkata saat itu.

Ah saya pun kembali teringat dengan masa lalu saya, saat itu kami sedang berada di Toko Buku yang berada di Pasaraya Grande Blok M. Saat itu saya hanya bisa memandang buku-buku bagus yang terpampang rapi di toko itu. Saya masih ingat judul buku itu Tafsir Ibnu Katsir terbitan Pustaka Imam As Syafi’I, harganya cukup mahal sekitar Rp. 110.000,- per jilidnya. Saya mengatakan begini sama mantan kekasih “kalau saya sudah bekerja nanti saya akan membelinya dan mengoleksi lengkap buku itu!” bahkan saya pun sempat bertanya padanya “Bagaimana jika nanti kita sudah menikah tapi saya masih sering membeli buku seperti ini bahkan bisa lebih dan lebih dibandingkan sekarang?” Mantan kekasih yang menjadi istri saya saat ini menjawab “Tidak mengapa, kamu kan suka baca sedang saya tidak terlalu, mungkin kalau kita punya anak dan melihat bapaknya suka membaca anaknya akan ketularan angan seperti ibunya.”

Ketika saya sudah bekerja saya pun melampiaskan dendam saya itu, saya membelanjakan sebagian penghasilan saya tiap bulannya ke buku. Namun ketika saya sudah menikah ternyata kebiasaan itu mulai menghilang, saya tetap suka membaca buku tapi lebih banyak meminjamnya dari orang lain dibanding membelinya. Ternyata penghasilan saya belum bisa memenuhi hasrat membeli buku, banyak kebutuhan-kebutuhan rumah tangga yang tak terduga membuat saya harus mengubur keinginan itu. Dendam itu pun lahir kembali ! Selama saya berumah tangga (tahun 2007) saya hanya memiliki beberapa buku saja diantaranya Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Kick Andy Menonton dengan Hati, The Secret (Hadiah dari mengikuti undian buku gratis di website kick andy) dan tiga buku lainnya yang saya lupa secara tepat judulnya tapi nggak jauh dari dunia Sales & Marketing serta pengembangan diri.

Buku adalah satu dari sekian banyak dendam saya, dan Buku adalah satu dari sekian banyak mimpi saya yang belum terwujud hingga hari ini. Lagi-lagi Kick Andy menginspirasi dan memotivasi saya, seolah buku pinjaman yang saya baca tadi malam telah menyadarkan saya bahwa langkah saya saat ini belum bisa membawa saya ke mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan. Saya harus membangun langkah baru, langkah yang mampu membawa dan membayar semua mimpi saya menjadi kenyataan, dan membalas seluruh dendam itu !

Jumat, 22 Agustus 2008

Jangan Lupakan Langkah yang Telah Terayun



Tidaklah semua masa lalumu adalah aib, dan tidaklah semua masa lalu mu adalah sebuah kehinaan. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah masa lalu, dan banyak orang bisa besar karena belajar dari kesalahan masa lalunya.

Hargailah masa lalu mu dengan kebesaran keadaanmu saat ini, dan janganlah engkau berprilaku kepada masa lalu mu seperti kecilnya engkau dulu. Bila engkau mengecilkan masa lalu mu maka engkau telah melupakan langkah-langkah kecil yang telah membawa mu kepada keadaan besarmu saat ini.

Duhai sahabat,

Berapa banyak orang-orang besar yang selalu memperhatikan hal-hal kecil dari sekelilingnya. Mereka tidak pernah meremehkan sesuatu yang kecil untuk meraih sebuah kebesaran. Masihkah kita menganggap masa lalu sebuah hal kecil yang tak perlu diingat lagi? akankah kita menganggap masa lalu sebagai sebuah masa yang tak memiliki harga?

Engkau telah melakukan kesalahan besar bila itu terjadi padamu,
Masa lalu mu adalah masa di mana langkah-langkah kecil itu mengayun membawamu ke dalam kebesaran mu saat ini. Berdirilah dengan gagah diatas masa lalu sertailah ia sebagai bagian dari kesuksesanmu saat ini. Percayalah engkau akan dihargai oleh masa mu saat ini, dan hormati oleh masa mu yang lalu.

Rabu, 20 Agustus 2008

Inilah Hidup



“ Jangan melihat ke atas lihatlah ke bawah maka kita akan lebih mensyukuri hidup”, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Dan sudah menjadi suratan juga kalau manusia itu memiliki tabiat tidak pernah merasa puas akan apa yang telah diperolehnya kecuali tanah telah menutupi tenggorokan ini.

Namun tidaklah berarti bahwa kita mesti diam di tempat, langkah tetap harus maju dan mengarah ke depan. Halangan tentu saja ada, rintangan pun demikian. Bila ada hambatan yang menghalangi jangan lantas mudah bersedih, tataplah tempatmu berdiri dan tengoklah dibelakang sana dan kau akan mensyukuri keberadaanmu sekarang.

Duhai alangkah nikmatnya di atas sana, demikian engkau beripikir tentang kehidupan saudara kita yang telah ada di atas !
Hei…….akankah kau habiskan waktu dan usia mu untuk memikirkan kehidupan orang, sedang masa hidupmu semakin pendek……!

Hai….teman, tidakkah kau berpikir akan saudara-saudaramu di bawah sana yang sedang berpikir sama tentang kehidupanmu ?

Selasa, 19 Agustus 2008

Never Tire !

Selamat Datang di blog ini !

Telah lama saya mendambakan adanya media yang menampung catatan-catatan kecil yang sering saya buat. Tanpa ada maksud apapun, seringkali pena ini tergores di atas lembaran-lembaran yang telah mensudikan dirinya menjadi tumpahan dari isi kepala dan hati saya terhadap suatu keadaan.

Tentu saja di dalam kehidupan ini manusia memiliki beberapa keadaan. Tidak selalu senang dan tidak selalu juga berduka. Namun ada catatan-catatan kecil yang mengiringi disetiap keadaan itu, ada pelajaran mungkin bagi sebagian orang. namun tak sedikit pula yang menganggap catatan-catatan itu sebagai sampah belaka.

Saya tak ingin membuangnya ! karena catatan ini adalah adalah inspirasi sekaligus motivasi buat saya. meski entah buat yang lain, namun catatan-catatan ini tidak akan hilang meski keadaan telah berubah !