
Adakalanya manusia itu baru bisa berempati atas kesulitan yang dialami oleh saudaranya setelah mengalami hal yang sama. Manusiawi bila hal itu terjadi karena kadang akal sehat belum tentu bisa menerima begitu saja atas penjelasan yang ada.
Suatu hari saya didatangi oleh seorang teman yang hendak ingin meminjam sejumlah uang untuk kepentingan sekolah si Adik. Sebenarnya saya sendiri saat itu tidak begitu memiliki simpanan yang bisa masuk dalam kategori “aman”. Maklum saja dalam berumah tangga kadang ada saja pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga yang sebelumnya tidak masuk dalam anggaran rutin. Namun karena alasan sekolah hati saya menjadi “berat” untuk tidak menolongnya, maka dengan segala upaya saya usahakan untuk menolongnya.
Selang beberapa hari setelah meminjamkan uang itu, beberapa teman mendatangi saya dan mempertanyakan tentang masalah hutang piutang tersebut. Intinya mereka mempersalahkan mengapa saya meminjamkan uang dengan nominal yang tidak kecil ke orang tersebut. Mereka memberikan informasi kepada saya kalau si peminjam tersebut saat ini sedang kesulitan uang akibat banyak pinjaman dimana-mana.
Saya hanya menjelaskan kepada mereka, bahwa niat saya untuk meminjamkan uang adalah murni untuk MENOLONG. Maka saya tidak pernah mementingkan akan digunakan untuk apa uang tersebut, apakah akan digunakan dengan tujuan semestinya atau tidak. Terpenting buat saya adalah orang tersebut bisa amanah dengan uang serta janjinya kepada saya.
Saya pernah merasakan kesulitan sepertinya, dan saya sering mendapatkan pertolongan. Bagaimana bisa saya melupakan sebuah kebahagiaan kala bantuan datang saat-saat kondisi kritis hampir saja membuat kehidupan saya terjungkal.Manusia pasti ada masanya, ada kalanya kita menerima namun ada kalanya kita memberi. Pada akhirnya toh kita sendiri yang akan mempertanggung jawabkan perbuatan kita bukan ?